Selasa, 26 April 2011

Komunikasi Warna Dalam Grafika


Sebuah apel jika ditanya kepada empat orang yang berbeda mungkinakan dijawab dengan empat persepsi yang berbeda,seperti percakapan tentang warna  pada gambar di samping ini
Komunikasi warna dalam industri grafika sangatlah penting karena ternyata “menyebut warna” secara verbal bisa mengandung persepsi dan interpretasi yang berbeda-beda bagi tiap orang. Bila proses komunikasi warna tiap-tiap orang yang terlibat dalam alur Proses Grafika tersebut kurang tepat, maka hasil akhir dari Produksi Cetak akan tidak sesuai dengan harapan klien. Hal ini tentu sangat merugikan dalam segi biaya, waktu, tenaga, hubungan kerjasama satu sama lain.


Alur Kerja Dalam Industri Grafika


 
Dalam Industri Grafika, mulai dari ide hingga produksi cetak melibatkan beberapa tahap dan proses yang saling terkait.
  1. Pertama Klien, menentukan pesan dan gambaran menyeluruh yang diinginkannya dan diberikan kepada Graphic Desainer 
  2. Graphic Desainer menyediakan konsep desain yang terdiri dari gambar digital, layout, teks dan graphics lewat software Desain Grafis di komputer. setelah disetujui dan di ACC oleh Klien, data digital tersebut dibawa ke Repro House. 
  3. Repro House (Prepress Service Provider) mengubah data digital tersebut ke dalam bentuk film separasi warna/pelat cetak dan proof warna (berupa Digital Proof atau Progressive Proof) untuk di bawa ke percetakan. 
  4. Percetakan memberikan jasa cetak  hingga finishing dalam oplah yang diinginkan Customer, namun warna harus mengikuti contoh Proof Warna yang diberikan oleh Desainer.

Tantangan dalam Komunikasi warna adalah bagaimana menjaga inti pesan dari customer agar dapat sesuai dengan hasil akhir produksi cetak lewat berbagai proses dengan baik dan Bagaimana mengontrol warna di setiap proses dalam mencapai warna dan hasil yang sesuai.

Prinsip Dasar Warna
Warna merupakan fenomena yang terjadi karena adanya tiga komponen yaitu Cahaya, Objek dan Observer/pengamat (dapat berupa mata kita ataupun alat ukur). Dalam ruang gelap, kita tidak dapat mengenali warna. Bila tidak ada objek, maka warna juga tidak ada.. Demikian pula jika kita menutup mata/terjadi gangguan mata, kita pun tidak bisa melihat warna sebuah objek dengan sempurna. Bila sedikit saja ada perubahan pada salah satu komponen tersebut, maka akan dapat berpengaruh pada persepsi warna yang dihasilkan. Kalau Mata manusia sangat bersifat subjective dalam menilai dan melihat warna, maka Alat ukur dapat bersifat objektif dalam menilai warna.

Bagaimana Komunikasi Warna yang baik dalam Industri Grafika?
  1. Perlu Pengukuran  dan Pengontrolan Warna yang ketat dan benar pada setiap Peralatan dalam Alur Kerja yang digunakan serta kerjasama yang baik antara klien, dan produksi cetak dalam komuniksi warna.
  2. Standard Cahaya Putih secara Internasional adalah sumber cahaya dengan color temperature 5000 Kelvin, maka dapat menggunakan Color Viewing Booth dalam menganalisa warna secara objektif.
  3. Mata manusia bersifat subjective dalam menilai suatu warna. Untuk itu, sebaiknya digunakan alat Ukur Spectrophotometer bersifat objective dalam menilai warna.
  4. Terminologi warna dan tools yang tepat dalam berkomunikasi warna, misalkan Color Chart  atau Pantone Chart.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar